DILAN 1991

HeyHo!

There Is A New Film Guys!



DILAN 1991

"Tenang Saja, Perpisahan Tak Menyedihkan, Yang Menyedihkan Adalah Bila Habis Itu Saling Lupa"

March 1 Rabu'19 gue bersama teman gue menonton film yang banyak di minati kalangan muda yaitu Dilan 1991 di bioskop Indonesia, Pakembang Indah Mall (PIM). Walaupun udah tanggal 1, namun antusias penonton membuat ruang bioskop menjadi sangat ramai. 

Milea kembali mengenal kisah kasihnya bersama Dilan di tahun 1991. Keberadaan Dilan adalah kebahagiaan tersendiri bagi Milea, walaupun hanya sekedar bercanda dan membicarakan hal-hal tidak jelas, yang penting di dekat Dilan. Milea bahagia, Dilan juga begitu. Milea selalu rindu Dilan, Dilan juga begitu. 

Dilan 1990 dan Dilan 1991, kedua-duanya diceritakan dari sudut pandang Milea. Tapi kita bisa membaca karakter Dilan dari setiap tindakannya yang diceritakan Milea. Tapi gue tetap gak bisa berhenti bertanya, apakah Dilan sudah menunjukkan karakternya yang sesungguhnya? Karena gue merasa dia selalu berusaha membuat Milea bahagia, persisnya dengan menghindarkan Milea dari merasa cemas. Kalau Milea cemas, Dilan akan mengalihkan Milea ke hal-hal lain. Dia gak membagi dirinya sepenuhnya ke Milea. Dia gak bilang pas mau balas dendam. Dia gak berbagi apapun yang menurutnya akan membuat Milea sedih. Karena begitu sayangnya dia ke Milea, dia gak mau Milea sedih. Gini ya Dilan, gue kasih tahu:

ITU SALAH BANGET! 

Cuma tiga adegan yang memberikan gue petunjuk, ini tuh Dilan yang sebenarnya. Saat dia datang ke sekolah Milea untuk mengabarkan kematian Akew, saat bersikeras ingin mengantar Milea pulang setelah mereka putus, dan saat berbicara dengan Bunda dan Milea, “Aku tidak suka dikekang.”

Milea baru mengenal Dilan yang tenang, lucu, senang gombalin dia, dan yang bisa membuat Milea merasa dilindungi. Milea belum mengenal sisi Dilan yang lain. Jadi ketika Milea bilang Dilan berubah, menurut gue, Dilan gak berubah. Dilan cuma menunjukkan sisi dirinya yang lain. Sisi dirinya yang ternyata bisa membuat Milea sedih dan kecewa. Dan Dilan gak suka bikin Milea sedih dan kecewa. Putus deh! 

KENAPA SIH ENDINGNYA HARUS BEGITU!

Anyway, intinya Dilan 1991 alias Dilan Bagian Kedua lebih emosional dan perkembangan karakternya kerasa banget, terutama Dilan. Ya itu tadi, dia menunjukkan sisi dirinya yang bisa bikin Milea sedih dan kecewa. Ada beberapa karakter baru, yang semuanya menurut gue nyebelin. Kecuali ayahnya Dilan. Gue juga harus sabar pas baca masih ada nama Kang Adi. Duh, orang ini lagi, orang ini lagi! Kalau bisa sih Kang Adi diungsikan ke Pluto aja, biar gak punya transport buat balik ke Bumi. 

Karakter Milea Adnan Hussain menurut gue. Kadang-kadang gue kagum sama dia. Kalau dia dengar Dilan lagi ada masalah, refleks Milea adalah memastikan Dilan baik-baik aja. Misalnya di buku satu dia berani menerobos masuk ruangan pas Dilan dan Anhar diinterogasi, atau mendatangi Dilan ke warung Bi Eem ketika ia tahu Dilan akan melakukan penyerangan, atau ketika Piyan memberitahunya rencana balas dendam Dilan, malam itu juga ia mendatangi Dilan untuk mencegahnya. Kadang-kadang gue suka gregetan sama keramahan Milea yang disalahartikan banyak cowok. Dia gak judes sih, ah! Dan gue merasa Milea itu cewek yang kuat dalam perjuangannya membiasakan diri tanpa Dilan, tanpa melepaskan perhatiannya terhadap orang-orang di sekitar Dilan seperti Bunda (Bunda adalah ibunya Dilan) dan Dilan sendiri. 


Walaupun seharusnya buku kedua ini adalah akhir dari cerita Dilan dan Milea, tetapi ada bagian-bagian tertentu yang gak terjawab. 


 

                                   
                               




Thankyou guys!
See u again, Loveyou All

#TugasSinematografi/4












Comments